This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
Minggu, 30 Juni 2013
KEPEMIMPINAN ALA HUTAN DAN RAJA HUTAN
Kehidupan ini telah lama kita
lalui. Ketika berjalan melalui lorong-lorong kehidupan banyak hal yang dapat
kita lihat dan temui. Berbagai bentuk kehidupan orang yang kita jumpai, dari
miskin sampai kaya, baik dan buruk, sifat kekanakan sampai pada sifat
kedewasaan, semua memberi warna yang bercorak untuk menunjukan eksistensinya.
Salah satu yang sering
menjadi perhatian saya dan sesering pula menyentak kebanyakan orang adalah jiwa pemimpin yang memimpin banyak orang.
Katakanlah pemimpin perusahan, pimpinan daerah, pemimpin instasi dan apa lagi
sebutannya. Sebagaimana pemimpin, termat sangat diharapkan menjadi pelindung,
pengayom. Dan satu hal yang paling penting untuk direnungi bahwa kita tidak selamanya
selalu berada di tahta kepemimpinan apalagi semua itu dibungkus dengan
kesombongan yang berkepanjangan.
Di tengah pemikiran terakhir
ini, dalam beberapa kesempatan sering kali saya teringat plus rindu akan
kepemimpinan pemimpin-pemimpin masa lampau di desa saya. Kepala desa, tokoh
agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat adalah kumpulan pemimpin yang lahir
dikala itu kebanyakan dengan tingkat pendidikan yang sangat rendah. Dalam remember past saya selalu dikejutkan dengan
kenyataan yang tidak terbayang sama sekali sebelumnya. Ingat akan penyampaian
beberapa orang tua yang telah pergi (baca : meninggal dunia) dan tidak menyelesaikan
sekolah dasarnya, ternyata mendalami makna hidup yang cukup dalam. Jalur
belajarnya saja yang berbeda dengan saya. Mereka belajar kehidupan dari kitab-kitab
yang berumur sangat tua bersama suara alam. Ingat akan semua ini satu hal yang
membuat saya lebih terkejutkan adalah penuturan akan pemahaman-pemahamannya
yang dalam tentang kepemimpinan. Tidak berbeda dengan apa yang dianalogikan
oleh salah satu penulis terbaik kita Gede Prama.
Meminjam tulisannya, dia
menggunakan pengandaian hutan dan raja hutan (Baca ; Singa). Sebagaimana kita
tahu, singa hidup di hutan. Dan telah lama dinobatkan sebagai raja hutan.
Uniknya tanpa hutan tidak ada singa yang bisa hidup panjang dan tentram. Namun
tanpa singa banyak hutan yang hidup tentram dalam waktu yang lama.
Perlambangan alam ini
mengajarkan kepada kita tentang pola hubungan antara pemimpin dan pengikutnya.
Kalau ada orang yang bercerita tentang hutan yang melindungi singa, tentu saja
anda tertawa sambil tidak percaya. Akan tetapi, sudah menjadi kebiasaan hidup
sehari-hari, bahwa hutan telah lama menjadi rumah, ibu dan tempat hidupnya si
raja hutan.
Kejanggalan sangat terasa
ketika kita meneropong dunia pemimpin dan kepemimpinan dalan perspektif hutan
dan singa. Seperti yang kita tau bersama, bangsa ini termasuk satu
contoh-bersama dan beberapa bangsa lain dimana rakyat dan pengikut tidak
ditempatkan sebagai ‘ibu’, namun sebagai korban-korban yang tidak berdaya. Lihat
saja sendiri, Irak, Suriyah, korea dan afrika kebanyakan berakhir dengan
tragis. Memang mereka adalah korban dari sebuah finah dan kezaliman namun tidak
menutup kemungkinan kalau semua datang dari ulah kepemimpinan.
Di banyak perusahan terjadi,
karyawan bukanlah tempat berteduhnya pemimpin, melalui praktek-praktek
industrial yang tanpa nurahi, mereka sudah lama menjadi sapi perahnya
pengusaha. Lihat bagaimana kasus yang penah terjadi baru-baru ini dimana
anak-anak dipekerjakan tanpa bayaran upah kerja. Tidak ubahnya dengan binatang,
‘dikurung’ saban hari tanpa pernah bisa melihat indahnya alam yang membuat
mereka tidak lagi berkesempatan untuk melantuntakan lagu kebahagiaan hati. Lihat
saja sendiri banyak organisasi pelayanan publik seperti kelurahan dan rumah
sakit, sudah menjadi catatan sejarah yang panjang kalau rakyat menjadi hamba
yang mesti menyembah. Ini semua tentu saja terbalik dengan pola hutan (baca :
rakyat dan pengikut) yang menjadi ibunya raja hutan (pemimpin).
Disamping menjungkirbalikan
hukum-hukum alam yang berumur teramat lama, juga karena tidak ada satu pun
manusia yang hidup tentram dalam jangka waktu yang lama dengan menyakiti sang
ibu, jangan heran ketika kepemimpinan yang menyakiti ‘ibu’ ini kemudian berumur
sangat dan sangat pendek sekali. Selama apapun kekuasaan seorang pimpinan, atau
selama apapun teori kepemimpnan diyakini, tetapi tak akan bisa mengalahkan
lamanya kenyataan dalam bentuk hutan
yang melindungi rajanya. Bisa jadi dia malah berumur lebih tua dari sejarah
manusia sendiri. Sebesar apapun kekuasaan seorang pemimmpin, atau selegitimatif apa pun proses lahirnya
seorang pemimpin namun melalui tindakan-tindakan yang menyakiti seorang ibu,
semuanya bisa lenyap ditelan ibu pertiwi.
Dari semua ini, sebagaimana
ibu yang sebenarnya yang tidak bisa dipilih mungkin sudah saatnya melihat
rakyat dan karyawan dalam posisi sebagai ibu. Dimana kita tidak hanya dituntut
hormat, melainkan juga diundang untuk sampai pada tataran cinta. Cinta anak akan ibu.
Produktivitas bukanlah sebuah
perkara yang teramat sulit. Di tataran cinta ini, tidak ada yang tidak bisa
dilakukan.. namun semua menjadi sulit adalah ketika kemewahan pemimpin dalam
waktu yang lama, untuk senantiasa duduk di atas singgasana dengan kesombongan
diri hingga menempatkan sang ‘ibu’ dalam posisi yang sangat menderita.
Sebagaimana ibu, ibu kandung,
ibu pertiwi, ibu mertua dan ibu jenis lainnya yang melahirkan, merawat dan
melindungi, mampuhkah kita hidup tanpa ini semua? Jika raja hutan tidak bisa
hidup tanpa ibunya yang bernama hutan, adakah pemimpin yang dikenang dalam
waktu yang lama tanpa memperhatikan sang ibu?
Jumat, 28 Juni 2013
HIDUP SECUKUPNYA
Mungkin
bukan kapasitas saya untuk membicarakan persoalan “Hidup Secukupnya” secara
ekonomi maupun sosiologi. Namun yang ingin saya sampaikan disini adalah sebuah ajakan untuk
kita dapat berefleksi atau bercermin melalui fakta hidup yang banyak kita lalui.
Bukan untuk membenarkan atau menyalahkan kehidupan seperti ini, namun untuk
menarik garis merah kehidupan ke depan dari sini agar menjadi
pelajaran-pelajaran yang membuat kita menjadi manusia lebih baik.
Pemburu-pemburu
kenikmatan. Mungkin itu sebutan yang tepat bagi orang yang hidup dijaman modern
ini. Mereka yang mempercayai kapitalisme sebagai mesin pendorong peradaban,
malah menyebut kenikmatan sebagai awal dari pertumbuhan dan kemajuan. Kalau
tanpa kenikmatan, bukankah semua ini jadi tidak hidup dan stagnan? Demikianlah
kira-kira pertanyaan awal mereka dalam melakukan pencaharian.
Dari
sinilah kemudian lahir setiap hari
jutaan pemburu kenikmatan yang tak dapat dihindari. Ada yang memburu melalui
jalur seks. Ada yang mencarinya melalui hobby dan berkoleksi motor gede (Moge),
mobil built up, main golf, rumah
mewah secara sangat berlebihan. Ada yang mengejarnya melalui tangga-tangga
kekuasaan. Bahkan ada dengan cara yang terlampau salah. Serta masih banyak lagi
lainnya. Digabung menjadi satu, benar kata kaum kapitalis, kenikmatanlah awal
dari kemajuan dan pertumbuhan.
Ada
seorang sahabat bertutur tentang pengalamannya ketika ke pantai Natsepa di Kota
Ambon yang kemudian dia mendapati ada yang menjual rujak. Ingat kalau dia
sangat merindukan rujak yang selama ini yang adalah salah satu makanan
favoritnya dan sudah lama tidak dimakan. Apalagi ditambah lagi ketika mendengar rujak Ambon adalah
rujak yang memiliki nilai rasa tersendiri. Dengan bernafsuh dia makan rujak
tersebut seakan ingin memberi kesan kalau ini
semua harus dibalas sepuasnya atas lamanya kerinduan terhadap makanan
ini. Dan lupa kalau memiliki penyakit
maag yang sering kambu. Tidak lama kemudian penyakit maag datang menyiksa hingga
harus mendapat perawatan rumah sakit.
Sebuah
cerita yang menuturkan tentang nasib seseorang. Dengan latar belakang masa muda
yang demikian ketat, maka begitu orang tuanya meninggal hampir semua kenikmatan
terutama kenikmatan seks dikejar habis-habisan tanpa memandang waktu. Tidak
lama kemudian, tidak hanya sekolahnya yang berantakan. Dia pun mulai kena
penyakit seks yang menakutkan.
Dari
ilustrasi di atas sesungguhnya masih ada banyak cerita sejenis dengan makna serupa.
Apa pun itu, yang jelas, segala bentuk kenikmatan yang datang dari luar entah
makanan, seks, harta dan lain-lain memerlukan kesipan badan dan jiwa. Di
tingkat yang tepat (tidak kurang tidak lebih), kenikmatan dari luar tadi
menjadi sahabat. Di tingkat yang tidak tepat apa lagi yang berlebihan, maka dia
menjadi musuh yang berbahaya. Bagi anda yang suka sekali nasi goreng, makanlah
sepuluh piring. Pencinta sate kambig, makanlah seribu tusuk. Dengan semua
langkah ini, bukankah neraka langsung menghadang di depan mata?
Sebagai
ilustrasi lain, bila anda bertanya kepada keserakahan dimanakan rumah yang
paling dia kunjungi? Jawabannya adalah rumah orang kaya sebab di sana dia akan
menjadi ‘Raja’. Lihat saja sendiri, bagaimana orang kaya dijebak dan dibuat
menderita oleh kekayaannya. Harta yang berlimpah memproduksi ketakutan akan
kehilangan yang membuat imsomnia. Asuransi kehidupan yang menggunung membuat
sejumlah orang tua mencurigai anak-anaknya. Sisa harta kehidupan yang melimpah
(baca : warisan) tidak jarang membuat anak cucu pecah berantakan. Demikian juga
sebaliknya. Orang yang teramat miskin juga dibuat menderita oleh kemiskinan.
Kelaparan, kekurangan gizi, penyakit hanyalah sebagian saja dan
perangkap-perangkap kemiskinan yang mencelakakan.
Seperti
ayunan bandul, semakin keras semakin bernafsuh seseorang dengan kebahagiaan,
semakin keras juga kesedihan menggoda. Ini juga yang dapat menjelaskan bagaimana
penikmat kebahagiaan secara berlebihan tanpa disertakan rasa syukur kemudian
digoda kesedihan juga yang berlebihan. Anda bisa lihat sendiri bagaimana data
WHO menunjukan tingginya pemakai pil tidur oleh bangsa Amerika Serikat sebagai
salah satu tempat pencaharian kebahagiaan ala tanpa Hidup Secukupnya.
Belajar
dari sini, penting dan teramat penting untuk segera mungkin menemukan titik
cukup dalam kehidupan. Titik ini memang tidak absolut, masih bisa untuk diperdebatkan
dan berbeda dari satu orang ke orang yang lain.
Entah
bagaimana anda menemukan kehidupan yang cukup. Bagi saya, tidak salah bila anda
mau mencoba untuk mengikuti rumus dengan kata kuncinya adalah pengeluaran.
Sebab dia lebih controlable dibandingkan dengan pendapatan. Dengan persentase
pengeluaran yang tidak boleh lebih dari lima puluh persen dari pendapatan,
siapa pun akan aman secara keuangan. Garis pembatas cukup, dari kehidupan saya
adalah setengah dari pendapatan. Sisahnya silahkan sisahkan untuk persiapan
hari depan.
Banyak
juga yang bertanya tentang godaan untuk tidak melebihi limit lima puluh persen.
Dalam pemahaman seperti ini godaan sebenarnya bukan datang dari luar, tetapi
seberapa cermat kita menjaga ‘jendela-jendela’ hawa nafsu. Mata, mulut hidung,
telinga, perasaan adalah jendela-jendela hawa nafsu yang sebaiknya kita jaga
secara cermat. Dengan demikian dapat dijamin terkendalinya situasi dalam diri
kita.
Sebagai
ilustrasi, saya mengurangi untuk datang ke tempat-tempat yang barangnya tidak saya
butuhkan. Tempat-tempat yang menghaburkan namuntidak memberi manfaat. Ia hanya
menimbulkan kebutuhan-kebutuhan baru yang membuat kami berhitung, untuk
kemudian kami menyimpulkan bahwa uang tidak cukup. Saya mendidik diri untuk
tidak membandingkan diri dengan teman maupun tetangga. Alangkah baiknya
kelenturan hidup perlu ditanamkan. Ketika hidup naik, nikmati lah kenikmatan
hidup di saat naik. Demikian juga kalau sebaliknya. Satu hal yang paling
penting adalah cobalah sesering mungkin untuk berani mengatakan cukup pada
jumlah uang yang kita miliki.
Memang
tidak gampang dan semudah yang kita pikirkan untuk menjalankan cara hidup seperti
ini yang dimulai dari awal. Namun, dengan sedikit kesabaran dan disiplin diri
serta komitmen diri, sinyal-sinyal hidup secukupnya pun cukup sering datang
dalam kehidupan kita.
Tidak
ubahnya dengan tanaman, pupuk yang terlalu banyak bisa membuat kematian. Tidak
pernah diberi pupuk juga membuatnya mati. Kadar pupuk yang cukup sangatlah
penting. Kita manusia juga sama. Kekayaan dan kekuasaan yang kita kejar sangat
keras, menguras banyak energi, bahkan menanggung resiko sakit sekalipun. Apalagi
hasil yang didapatkan adalah dari hasil kerja yang salah, selalu mendatangkan
keperluan yang jarang ditemukan diawal pencaharian bahkan dengan jumlah
transaksi yang besar dan terkadang melebihi dari yang telah kita hasilkan.
Mungkin ada yang bertanya, kenapa ini bisa terjadi, sebuah kebutuhan yang tidak
pernah terjadi dikala kita masih sesederhana dulu? Inilah hukum alam yang mau
atau tidak, suka atau tidak suka semua itu akan datang secara radikal untuk
menunjukan eksistensinya dalam kehidupan.
Untuk
apa semua kita peroleh ternyata hanya menciptakan racun dan petaka baru. Hidup
akan penuh dengan kesia-siaan dan tidak bermakna, kalau setelah berlari kencang
sangat jauh menghabiskan keringat dengan waktu tempuh yang demikian lama
kemudian ternyata di garis finish yang kita dapatkan hanyalah sebuah tiang
gantungan?
Kamis, 20 Juni 2013
POLA PIKIR KITA
Sebelum yang
lain saya bicarakan pada blog ini terlebih dahulu bagi saya adalah memberikan
sedikit pembahasan yang menjadi penting sebagai awal dari sebuah tindakan
menuju KEARIFAN DIRI. Kearifan saya, kamu dan kita semua.
Berbicara tentang
sebuah pola pikir, maka hal yang perlu kita pertanyakan adalah, Apa itu pola
pikir?
Pola pikir
adalah pola-pola dominan yang menjadi acuan utam untuk bertindak. Selanjutnya
Pola pikir adalah Pola yang menetabkan dalam pikiran bawah sadar seseorang.
Dalam pengalaman
sepanjang hidup kita, manusia sering
berbuat sesuai dengan perintah otak yang membuahi sebuah pola pikir (mind sett) yang kemudian menjadikan
manusia tidak bermartabat dan lebih baik. Pola pikir yang baik akan
mengahasilkan sebuah keindahan dalam hidupnya. Keindahan pada diri sendiri dan
keindahan pada orang lain. Begitu juga sebalinya, ketika pola pikir seseorang
dilandasi dengan presepsi dan tujuan yang salah, maka jelas akan memberikan
dampak yang buruk terhadap kehidupannya dan orang lain.
Konsep dasar
pola pikir dimulai dari Pikiran yang
disiplian, pikiran yang dapat menyerap berbagai informasi, pikiran yang coba
membentangkan pertanyaan tak terduga, polapikir yang menyambut perbedaan
pandangan yang suka cita dan yang terakhir adalah pola pikir yang Etis. Inilah pola pikir yang membuat
kita menjadi manusia lebih baik, lebih arif dalam berjalan dalam kehidupan ini.
Secara umum kita
mendapatkan proses pembentukan pola pikir bersumber dari beberapa sumber
kehidupan diantaranya :
1.Bersumber dari keturunan secara genetika
Pola pikir ini adalah pola pikir
warisan watak dari kedua orang tua dan terkadang mendominasi dari sifat salah
satu saja (orang tua);
2.Bersumber dari profesi social
Pola pikir ini adalah pola pkir yang
dihasilkan dari sebuah lingkungan yang membentuk watak seseorang dalam
menjalani hidupnya. Jika anda berada pada lingkungan preman, maka bersiaplah
ketika tidak dibarengi dengan ketaatan dalam beragama anda pun akan menjadi
seorang preman pula.
Manusia adalah
selemah-lemahnya makhluk, dengan agamalah kita merasa yakin, merupakan hasil
dari sebuah kepercayaan diri bahwa dengan itu kita dapat membentengi diri dari
hal-hal yang salah. Rayuan dan coban silih berganti dengan sabar dapat dilalui
walau kuatnya arus yang menghempaskan kita pada karang-karang kehidupan.
Sejujurnya dalam
sebuah pola pikir yang membentuk arah hidup kita apapun kelainannya yang
dipunyai oleh seseorang pada dasarnya adalah sama dengan yang dimiliki leh
manusia yang lain pada umumnya. Kita sama-sama mengalami perubahan dalam diri
yang terkadang mengakibatkan diri ini menjadi pribadi yang tidak dapt mengendalikan diri, terobsesi, depresis, maniak dan
labil. Parahnya dalam kehidupan sekarang ini terlalu banyak pola pikir
dihiasi oleh hanya mengejar sebuah penghargaan, mengejar akan sebuah jabatan
yang tidak memperhitungkan kebaikan lain yang pada akhirnya membuat kita lebih
terhempas jauh dari kearifan diri yang sesungguhnya. Ingat, didalam
keberhasilan tentu ada kekurangan berhasilan, hambatan atau dimensi permasalahan
berupa pola pikir negative. Namun dengan menyadiri akan arti kebenaran yang
sesungguhnya, maka kita pun akan berkemampuan untuk menebas habis kejahiliaan
diri hingga menjadikan pribadi-pribadi tangguh yang mampu melalui berbagai aral
keberhasilan tersebut.
Pola pikir
negatif dan pola fikir positif adalah dua buah komponen yang tertanam apik di
dalam jiwa diri kita. Pola fikir negative selalu menekankan keharusan pada diri
sendiri. Saya harus begini, saya harus begitu lah.. ! namun ketika kegagalan
menghampiri, maka yang dirasakan adalah kehancuran hati. Selalu berfikir serbab
totalitas dan dualiseme, fesimistik nan futuristik; berfikir akan ketidak
mampuan diri, tidak kritis dan selektif terhadap self-criticism; suka
mementingkan diri sendiri dan selalu percaya bahwa diri ini memang pantas untuk
dikritisi dam lain sebagainya.
Pola pikir
positif selalu berdiri diatas pandangan-pandangan yang melihat masalah adalah
sebagai tantangan, menikmati hidup, cara berfikir yang terbuka, selalu mengedepankan
pemikiran yang baik, mensyukiri apa yang telah dia miliki tanpa harus lebih
banyak menuntut sana sini hanya untuk memuaskan bathin yang tidak pernah
berhenti dari dahaga kepuasan, lebih mengedepankan tindakan ketimbang sebuah alasan,
peduli pada arti sebuah citra diri dan lain sebagainya.
Suka atau tidak,
kenyataan adalah ketika kita pergi jauh meninggalkan sebuah aturan akan hukum
Tuhan, maka dapat dipastikan kalau kita akan semakin jauh meninggalkan
kebaikan-kebaikan dan kemudian membentuk sebuah diri serba salah yang pada
akhirnya menjadi pribadi-pribadi yang takan pernah bersentuhan dengan hakikat
Kearifan Diri Kita yang sesungguhnya. Disinilah manusia sangat
membutuhkan adanya tindakan untuk lebih banyak merenungi diri untuk lebih
melihat, mengingat dan menyadari apa yang selama ini dibuatnya, apa yang selama
ini dia dapatkan. Inti dari itu adalah dalam merenung diri yang terus menerus
dapat memberikan sebuah pengertian bahwa sesungguhnya tujuan hidup ini adalah
hanya berbakhti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan pengertian seperti ini, maka
yang harus kita persembahkan adalah kebaikan-kebaikan diri yang mengagumkan.
Semoga
bermanfaat untuk kita semua
Wassalamu”alaikum..
#RidRachman
22.07
Unknown




