Kehidupan ini telah lama kita
lalui. Ketika berjalan melalui lorong-lorong kehidupan banyak hal yang dapat
kita lihat dan temui. Berbagai bentuk kehidupan orang yang kita jumpai, dari
miskin sampai kaya, baik dan buruk, sifat kekanakan sampai pada sifat
kedewasaan, semua memberi warna yang bercorak untuk menunjukan eksistensinya.
Salah satu yang sering
menjadi perhatian saya dan sesering pula menyentak kebanyakan orang adalah jiwa pemimpin yang memimpin banyak orang.
Katakanlah pemimpin perusahan, pimpinan daerah, pemimpin instasi dan apa lagi
sebutannya. Sebagaimana pemimpin, termat sangat diharapkan menjadi pelindung,
pengayom. Dan satu hal yang paling penting untuk direnungi bahwa kita tidak selamanya
selalu berada di tahta kepemimpinan apalagi semua itu dibungkus dengan
kesombongan yang berkepanjangan.
Di tengah pemikiran terakhir
ini, dalam beberapa kesempatan sering kali saya teringat plus rindu akan
kepemimpinan pemimpin-pemimpin masa lampau di desa saya. Kepala desa, tokoh
agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat adalah kumpulan pemimpin yang lahir
dikala itu kebanyakan dengan tingkat pendidikan yang sangat rendah. Dalam remember past saya selalu dikejutkan dengan
kenyataan yang tidak terbayang sama sekali sebelumnya. Ingat akan penyampaian
beberapa orang tua yang telah pergi (baca : meninggal dunia) dan tidak menyelesaikan
sekolah dasarnya, ternyata mendalami makna hidup yang cukup dalam. Jalur
belajarnya saja yang berbeda dengan saya. Mereka belajar kehidupan dari kitab-kitab
yang berumur sangat tua bersama suara alam. Ingat akan semua ini satu hal yang
membuat saya lebih terkejutkan adalah penuturan akan pemahaman-pemahamannya
yang dalam tentang kepemimpinan. Tidak berbeda dengan apa yang dianalogikan
oleh salah satu penulis terbaik kita Gede Prama.
Meminjam tulisannya, dia
menggunakan pengandaian hutan dan raja hutan (Baca ; Singa). Sebagaimana kita
tahu, singa hidup di hutan. Dan telah lama dinobatkan sebagai raja hutan.
Uniknya tanpa hutan tidak ada singa yang bisa hidup panjang dan tentram. Namun
tanpa singa banyak hutan yang hidup tentram dalam waktu yang lama.
Perlambangan alam ini
mengajarkan kepada kita tentang pola hubungan antara pemimpin dan pengikutnya.
Kalau ada orang yang bercerita tentang hutan yang melindungi singa, tentu saja
anda tertawa sambil tidak percaya. Akan tetapi, sudah menjadi kebiasaan hidup
sehari-hari, bahwa hutan telah lama menjadi rumah, ibu dan tempat hidupnya si
raja hutan.
Kejanggalan sangat terasa
ketika kita meneropong dunia pemimpin dan kepemimpinan dalan perspektif hutan
dan singa. Seperti yang kita tau bersama, bangsa ini termasuk satu
contoh-bersama dan beberapa bangsa lain dimana rakyat dan pengikut tidak
ditempatkan sebagai ‘ibu’, namun sebagai korban-korban yang tidak berdaya. Lihat
saja sendiri, Irak, Suriyah, korea dan afrika kebanyakan berakhir dengan
tragis. Memang mereka adalah korban dari sebuah finah dan kezaliman namun tidak
menutup kemungkinan kalau semua datang dari ulah kepemimpinan.
Di banyak perusahan terjadi,
karyawan bukanlah tempat berteduhnya pemimpin, melalui praktek-praktek
industrial yang tanpa nurahi, mereka sudah lama menjadi sapi perahnya
pengusaha. Lihat bagaimana kasus yang penah terjadi baru-baru ini dimana
anak-anak dipekerjakan tanpa bayaran upah kerja. Tidak ubahnya dengan binatang,
‘dikurung’ saban hari tanpa pernah bisa melihat indahnya alam yang membuat
mereka tidak lagi berkesempatan untuk melantuntakan lagu kebahagiaan hati. Lihat
saja sendiri banyak organisasi pelayanan publik seperti kelurahan dan rumah
sakit, sudah menjadi catatan sejarah yang panjang kalau rakyat menjadi hamba
yang mesti menyembah. Ini semua tentu saja terbalik dengan pola hutan (baca :
rakyat dan pengikut) yang menjadi ibunya raja hutan (pemimpin).
Disamping menjungkirbalikan
hukum-hukum alam yang berumur teramat lama, juga karena tidak ada satu pun
manusia yang hidup tentram dalam jangka waktu yang lama dengan menyakiti sang
ibu, jangan heran ketika kepemimpinan yang menyakiti ‘ibu’ ini kemudian berumur
sangat dan sangat pendek sekali. Selama apapun kekuasaan seorang pimpinan, atau
selama apapun teori kepemimpnan diyakini, tetapi tak akan bisa mengalahkan
lamanya kenyataan dalam bentuk hutan
yang melindungi rajanya. Bisa jadi dia malah berumur lebih tua dari sejarah
manusia sendiri. Sebesar apapun kekuasaan seorang pemimmpin, atau selegitimatif apa pun proses lahirnya
seorang pemimpin namun melalui tindakan-tindakan yang menyakiti seorang ibu,
semuanya bisa lenyap ditelan ibu pertiwi.
Dari semua ini, sebagaimana
ibu yang sebenarnya yang tidak bisa dipilih mungkin sudah saatnya melihat
rakyat dan karyawan dalam posisi sebagai ibu. Dimana kita tidak hanya dituntut
hormat, melainkan juga diundang untuk sampai pada tataran cinta. Cinta anak akan ibu.
Produktivitas bukanlah sebuah
perkara yang teramat sulit. Di tataran cinta ini, tidak ada yang tidak bisa
dilakukan.. namun semua menjadi sulit adalah ketika kemewahan pemimpin dalam
waktu yang lama, untuk senantiasa duduk di atas singgasana dengan kesombongan
diri hingga menempatkan sang ‘ibu’ dalam posisi yang sangat menderita.
Sebagaimana ibu, ibu kandung,
ibu pertiwi, ibu mertua dan ibu jenis lainnya yang melahirkan, merawat dan
melindungi, mampuhkah kita hidup tanpa ini semua? Jika raja hutan tidak bisa
hidup tanpa ibunya yang bernama hutan, adakah pemimpin yang dikenang dalam
waktu yang lama tanpa memperhatikan sang ibu?
22.07
Unknown

Posted in: 

0 komentar:
Posting Komentar