Minggu, 30 Juni 2013

KEPEMIMPINAN ALA HUTAN DAN RAJA HUTAN



Kehidupan ini telah lama kita lalui. Ketika berjalan melalui lorong-lorong kehidupan banyak hal yang dapat kita lihat dan temui. Berbagai bentuk kehidupan orang yang kita jumpai, dari miskin sampai kaya, baik dan buruk, sifat kekanakan sampai pada sifat kedewasaan, semua memberi warna yang bercorak untuk menunjukan eksistensinya.

Salah satu yang sering menjadi perhatian saya dan sesering pula menyentak kebanyakan orang  adalah jiwa pemimpin yang memimpin banyak orang. Katakanlah pemimpin perusahan, pimpinan daerah, pemimpin instasi dan apa lagi sebutannya. Sebagaimana pemimpin, termat sangat diharapkan menjadi pelindung, pengayom. Dan satu hal yang paling penting untuk direnungi bahwa kita tidak selamanya selalu berada di tahta kepemimpinan apalagi semua itu dibungkus dengan kesombongan yang berkepanjangan.

Di tengah pemikiran terakhir ini, dalam beberapa kesempatan sering kali saya teringat plus rindu akan kepemimpinan pemimpin-pemimpin masa lampau di desa saya. Kepala desa, tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat adalah kumpulan pemimpin yang lahir dikala itu kebanyakan dengan tingkat pendidikan yang sangat rendah. Dalam remember past saya selalu dikejutkan dengan kenyataan yang tidak terbayang sama sekali sebelumnya. Ingat akan penyampaian beberapa orang tua yang telah pergi (baca : meninggal dunia) dan tidak menyelesaikan sekolah dasarnya, ternyata mendalami makna hidup yang cukup dalam. Jalur belajarnya saja yang berbeda dengan saya. Mereka belajar kehidupan dari kitab-kitab yang berumur sangat tua bersama suara alam. Ingat akan semua ini satu hal yang membuat saya lebih terkejutkan adalah penuturan akan pemahaman-pemahamannya yang dalam tentang kepemimpinan. Tidak berbeda dengan apa yang dianalogikan oleh salah satu penulis terbaik kita Gede Prama.

Meminjam tulisannya, dia menggunakan pengandaian hutan dan raja hutan (Baca ; Singa). Sebagaimana kita tahu, singa hidup di hutan. Dan telah lama dinobatkan sebagai raja hutan. Uniknya tanpa hutan tidak ada singa yang bisa hidup panjang dan tentram. Namun tanpa singa banyak hutan yang hidup tentram dalam waktu yang lama.

Perlambangan alam ini mengajarkan kepada kita tentang pola hubungan antara pemimpin dan pengikutnya. Kalau ada orang yang bercerita tentang hutan yang melindungi singa, tentu saja anda tertawa sambil tidak percaya. Akan tetapi, sudah menjadi kebiasaan hidup sehari-hari, bahwa hutan telah lama menjadi rumah, ibu dan tempat hidupnya si raja hutan.

Kejanggalan sangat terasa ketika kita meneropong dunia pemimpin dan kepemimpinan dalan perspektif hutan dan singa. Seperti yang kita tau bersama, bangsa ini termasuk satu contoh-bersama dan beberapa bangsa lain dimana rakyat dan pengikut tidak ditempatkan sebagai ‘ibu’, namun sebagai korban-korban yang tidak berdaya. Lihat saja sendiri, Irak, Suriyah, korea dan afrika kebanyakan berakhir dengan tragis. Memang mereka adalah korban dari sebuah finah dan kezaliman namun tidak menutup kemungkinan kalau semua datang dari ulah kepemimpinan. 

Di banyak perusahan terjadi, karyawan bukanlah tempat berteduhnya pemimpin, melalui praktek-praktek industrial yang tanpa nurahi, mereka sudah lama menjadi sapi perahnya pengusaha. Lihat bagaimana kasus yang penah terjadi baru-baru ini dimana anak-anak dipekerjakan tanpa bayaran upah kerja. Tidak ubahnya dengan binatang, ‘dikurung’ saban hari tanpa pernah bisa melihat indahnya alam yang membuat mereka tidak lagi berkesempatan untuk melantuntakan lagu kebahagiaan hati. Lihat saja sendiri banyak organisasi pelayanan publik seperti kelurahan dan rumah sakit, sudah menjadi catatan sejarah yang panjang kalau rakyat menjadi hamba yang mesti menyembah. Ini semua tentu saja terbalik dengan pola hutan (baca : rakyat dan pengikut) yang menjadi ibunya raja hutan (pemimpin).

Disamping menjungkirbalikan hukum-hukum alam yang berumur teramat lama, juga karena tidak ada satu pun manusia yang hidup tentram dalam jangka waktu yang lama dengan menyakiti sang ibu, jangan heran ketika kepemimpinan yang menyakiti ‘ibu’ ini kemudian berumur sangat dan sangat pendek sekali. Selama apapun kekuasaan seorang pimpinan, atau selama apapun teori kepemimpnan diyakini, tetapi tak akan bisa mengalahkan lamanya  kenyataan dalam bentuk hutan yang melindungi rajanya. Bisa jadi dia malah berumur lebih tua dari sejarah manusia sendiri. Sebesar apapun kekuasaan seorang pemimmpin,  atau selegitimatif apa pun proses lahirnya seorang pemimpin namun melalui tindakan-tindakan yang menyakiti seorang ibu, semuanya bisa lenyap ditelan ibu pertiwi.

Dari semua ini, sebagaimana ibu yang sebenarnya yang tidak bisa dipilih mungkin sudah saatnya melihat rakyat dan karyawan dalam posisi sebagai ibu. Dimana kita tidak hanya dituntut hormat, melainkan juga diundang untuk sampai pada tataran cinta. Cinta anak akan ibu.

Produktivitas bukanlah sebuah perkara yang teramat sulit. Di tataran cinta ini, tidak ada yang tidak bisa dilakukan.. namun semua menjadi sulit adalah ketika kemewahan pemimpin dalam waktu yang lama, untuk senantiasa duduk di atas singgasana dengan kesombongan diri hingga menempatkan sang ‘ibu’ dalam posisi yang sangat menderita.

Sebagaimana ibu, ibu kandung, ibu pertiwi, ibu mertua dan ibu jenis lainnya yang melahirkan, merawat dan melindungi, mampuhkah kita hidup tanpa ini semua? Jika raja hutan tidak bisa hidup tanpa ibunya yang bernama hutan, adakah pemimpin yang dikenang dalam waktu yang lama tanpa memperhatikan sang ibu?

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes