Jumat, 28 Juni 2013

HIDUP SECUKUPNYA


Mungkin bukan kapasitas saya untuk membicarakan persoalan “Hidup Secukupnya” secara ekonomi maupun sosiologi. Namun yang ingin saya  sampaikan disini adalah sebuah ajakan untuk kita dapat berefleksi atau bercermin melalui fakta hidup yang banyak kita lalui. Bukan untuk membenarkan atau menyalahkan kehidupan seperti ini, namun untuk menarik garis merah kehidupan ke depan dari sini agar menjadi pelajaran-pelajaran yang membuat kita menjadi manusia lebih baik.

Pemburu-pemburu kenikmatan. Mungkin itu sebutan yang tepat bagi orang yang hidup dijaman modern ini. Mereka yang mempercayai kapitalisme sebagai mesin pendorong peradaban, malah menyebut kenikmatan sebagai awal dari pertumbuhan dan kemajuan. Kalau tanpa kenikmatan, bukankah semua ini jadi tidak hidup dan stagnan? Demikianlah kira-kira pertanyaan awal mereka dalam melakukan pencaharian.

Dari sinilah kemudian lahir  setiap hari jutaan pemburu kenikmatan yang tak dapat dihindari. Ada yang memburu melalui jalur seks. Ada yang mencarinya melalui hobby dan berkoleksi motor gede (Moge), mobil built up, main golf, rumah mewah secara sangat berlebihan. Ada yang mengejarnya melalui tangga-tangga kekuasaan. Bahkan ada dengan cara yang terlampau salah. Serta masih banyak lagi lainnya. Digabung menjadi satu, benar kata kaum kapitalis, kenikmatanlah awal dari kemajuan dan pertumbuhan.

Ada seorang sahabat bertutur tentang pengalamannya ketika ke pantai Natsepa di Kota Ambon yang kemudian dia mendapati ada yang menjual rujak. Ingat kalau dia sangat merindukan rujak yang selama ini yang adalah salah satu makanan favoritnya dan sudah lama tidak dimakan. Apalagi ditambah lagi ketika mendengar rujak Ambon adalah rujak yang memiliki nilai rasa tersendiri. Dengan bernafsuh dia makan rujak tersebut seakan ingin memberi kesan kalau ini  semua harus dibalas sepuasnya atas lamanya kerinduan terhadap makanan ini.  Dan lupa kalau memiliki penyakit maag yang sering kambu. Tidak lama kemudian penyakit maag datang menyiksa hingga harus mendapat perawatan rumah sakit.

Sebuah cerita yang menuturkan tentang nasib seseorang. Dengan latar belakang masa muda yang demikian ketat, maka begitu orang tuanya meninggal hampir semua kenikmatan terutama kenikmatan seks dikejar habis-habisan tanpa memandang waktu. Tidak lama kemudian, tidak hanya sekolahnya yang berantakan. Dia pun mulai kena penyakit seks yang menakutkan.

Dari ilustrasi di atas sesungguhnya masih ada banyak cerita sejenis dengan makna serupa. Apa pun itu, yang jelas, segala bentuk kenikmatan yang datang dari luar entah makanan, seks, harta dan lain-lain memerlukan kesipan badan dan jiwa. Di tingkat yang tepat (tidak kurang tidak lebih), kenikmatan dari luar tadi menjadi sahabat. Di tingkat yang tidak tepat apa lagi yang berlebihan, maka dia menjadi musuh yang berbahaya. Bagi anda yang suka sekali nasi goreng, makanlah sepuluh piring. Pencinta sate kambig, makanlah seribu tusuk. Dengan semua langkah ini, bukankah neraka langsung menghadang di depan mata?

Sebagai ilustrasi lain, bila anda bertanya kepada keserakahan dimanakan rumah yang paling dia kunjungi? Jawabannya adalah rumah orang kaya sebab di sana dia akan menjadi ‘Raja’. Lihat saja sendiri, bagaimana orang kaya dijebak dan dibuat menderita oleh kekayaannya. Harta yang berlimpah memproduksi ketakutan akan kehilangan yang membuat imsomnia. Asuransi kehidupan yang menggunung membuat sejumlah orang tua mencurigai anak-anaknya. Sisa harta kehidupan yang melimpah (baca : warisan) tidak jarang membuat anak cucu pecah berantakan. Demikian juga sebaliknya. Orang yang teramat miskin juga dibuat menderita oleh kemiskinan. Kelaparan, kekurangan gizi, penyakit hanyalah sebagian saja dan perangkap-perangkap kemiskinan yang mencelakakan.

Seperti ayunan bandul, semakin keras semakin bernafsuh seseorang dengan kebahagiaan, semakin keras juga kesedihan menggoda. Ini juga yang dapat menjelaskan bagaimana penikmat kebahagiaan secara berlebihan tanpa disertakan rasa syukur kemudian digoda kesedihan juga yang berlebihan. Anda bisa lihat sendiri bagaimana data WHO menunjukan tingginya pemakai pil tidur oleh bangsa Amerika Serikat sebagai salah satu tempat pencaharian kebahagiaan ala tanpa Hidup Secukupnya.

Belajar dari sini, penting dan teramat penting untuk segera mungkin menemukan titik cukup dalam kehidupan. Titik ini memang tidak absolut, masih bisa untuk diperdebatkan dan berbeda dari satu orang ke orang yang lain. 

Entah bagaimana anda menemukan kehidupan yang cukup. Bagi saya, tidak salah bila anda mau mencoba untuk mengikuti rumus dengan kata kuncinya adalah pengeluaran. Sebab dia lebih controlable  dibandingkan dengan pendapatan. Dengan persentase pengeluaran yang tidak boleh lebih dari lima puluh persen dari pendapatan, siapa pun akan aman secara keuangan. Garis pembatas cukup, dari kehidupan saya adalah setengah dari pendapatan. Sisahnya silahkan sisahkan untuk persiapan hari depan.

Banyak juga yang bertanya tentang godaan untuk tidak melebihi limit lima puluh persen. Dalam pemahaman seperti ini godaan sebenarnya bukan datang dari luar, tetapi seberapa cermat kita menjaga ‘jendela-jendela’ hawa nafsu. Mata, mulut hidung, telinga, perasaan adalah jendela-jendela hawa nafsu yang sebaiknya kita jaga secara cermat. Dengan demikian dapat dijamin terkendalinya situasi dalam diri kita.

Sebagai ilustrasi, saya mengurangi untuk datang ke tempat-tempat yang barangnya tidak saya butuhkan. Tempat-tempat yang menghaburkan namuntidak memberi manfaat. Ia hanya menimbulkan kebutuhan-kebutuhan baru yang membuat kami berhitung, untuk kemudian kami menyimpulkan bahwa uang tidak cukup. Saya mendidik diri untuk tidak membandingkan diri dengan teman maupun tetangga. Alangkah baiknya kelenturan hidup perlu ditanamkan. Ketika hidup naik, nikmati lah kenikmatan hidup di saat naik. Demikian juga kalau sebaliknya. Satu hal yang paling penting adalah cobalah sesering mungkin untuk berani mengatakan cukup pada jumlah uang yang kita miliki.

Memang tidak gampang dan semudah yang kita pikirkan untuk menjalankan cara hidup seperti ini yang dimulai dari awal. Namun, dengan sedikit kesabaran dan disiplin diri serta komitmen diri, sinyal-sinyal hidup secukupnya pun cukup sering datang dalam kehidupan kita.

Tidak ubahnya dengan tanaman, pupuk yang terlalu banyak bisa membuat kematian. Tidak pernah diberi pupuk juga membuatnya mati. Kadar pupuk yang cukup sangatlah penting. Kita manusia juga sama. Kekayaan dan kekuasaan yang kita kejar sangat keras, menguras banyak energi, bahkan menanggung resiko sakit sekalipun. Apalagi hasil yang didapatkan adalah dari hasil kerja yang salah, selalu mendatangkan keperluan yang jarang ditemukan diawal pencaharian bahkan dengan jumlah transaksi yang besar dan terkadang melebihi dari yang telah kita hasilkan. Mungkin ada yang bertanya, kenapa ini bisa terjadi, sebuah kebutuhan yang tidak pernah terjadi dikala kita masih sesederhana dulu? Inilah hukum alam yang mau atau tidak, suka atau tidak suka semua itu akan datang secara radikal untuk menunjukan eksistensinya dalam kehidupan. 

Untuk apa semua kita peroleh ternyata hanya menciptakan racun dan petaka baru. Hidup akan penuh dengan kesia-siaan dan tidak bermakna, kalau setelah berlari kencang sangat jauh menghabiskan keringat dengan waktu tempuh yang demikian lama kemudian ternyata di garis finish yang kita dapatkan hanyalah sebuah tiang gantungan?

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best WordPress Themes